Main ke Telaga Warna Dieng


Cerita gue kali ini edisi modal nekat kedua buat ke Dieng, dulu sewaktu gue kuliah naik motor dari Solo, sekarang naik bus dari Bandung. Yepp.. Pegunungan Dieng berada di Jawa Tengah, ada di Kabupaten Banjarnegara tepatnya. Kebanyakan orang mengenal Dieng tuh pegunungan dingin dan telaga warnanya, tapi sebenernya Dieng merupakan komplek wisata yang lengkap lho, kalau kamu main air ada telaga warna, mau dekat dengan sejarah ada komplek candi Arjuna, mau hiking ada gunung Prau dan Sikunir, semuanya ada di satu kawasan Dieng. Kali ini gue traveling ke telaga warna dan ke gunung Prau start berangkat dari Bandung bulan Mei 2017 lalu, bulan yang pas kalau kamu mau lihat Milky Way dengan jelas. Well karena ini modal nekat, gue dari Bandung ke Dieng cuma habis 300rb-an aja. 😆

Gue dari Bandung menuju ke kabupaten Wonosobo naik Bus. Ada dua pilihan bus kalau dari Bandung ke Dieng, keduanya eksekutif seat 2-2 AC, Sinar Jaya Rp. 70.000 atau Budiman Rp. 85.000 sudah include makan malam. Gue berangkat naik Bus Sinar jaya ber-empat bersama Didik, Putra, dan Aditya. Berangkat dari terminal Cicaheum bandung pukul 18.30 wib dengan perkiraan sampai tujuan 10 jam perjalanan. Saya datang waktu magrib, biasa lah, takut ketinggalan bus, tapi ternyata bus nya delay :???:. Bus delay dong jadi terlambat berangkat sekitar 19.20, well, gak papalah yang penting berangkat dan bisa sampai Dieng sebelum fajar.

Proses negosisasi dengan tukang ojek di Plasa Wonosobo.

Sampai di Wonosobo, sekitar jam 06.00 pagi, kami turun di Plasa Wonosobo. Hati-hati kalau udah sampai sini, banyak tukang ojek yang langsung menawari harga tinggi buat ke Kauman (tempat naik bus kecil agar sampai dieng). Gue saranin buat naik angkot saja untuk transit ke Kauman seharga 2rb per-orang, sebenarnya jalan kaki bisa sih, tapi lumayan jauh sekitar 1 km dan jalan agak menjanjak, emang kalian mau? Dulu sih belum ada gojek atau grab, sekarang tinggal order aja sampai. Hehe. Hari itu kami pilih naik angkot sampai kauman, tapi sialnya alun-alun Wonosobo lagi dipakai roadrace, jalan akses buat angkot ditutup dong, angkot tidak bisa lewat dong. Ieuuh, akhirnya kami jalan kaki sejauh setengah kilometer sambil membawa tas carrier gede di jalalan kota Bondowoso. 😕

Sampainya di Kauman akan ada bis kecil yang bisa nganter sampai ke Dieng, jarak Kauman ke Dieng Plateu cukup jauh, sekitar 1½  jam perjalanan. Harga yang dipatok kernet bus normalnya berkisar antara 10rb sampai 20rb. Dulu gue kena 15rb per orang sampai pintu masuk kawasan Dieng, ya masih wajar lah dengan harga segitu plus kami bawa tas carrier banyak. Di jalan kamu akan disuguhi pemandangan pedesaan yang indah, udara mulai sejuk, gunung-gunung sudah mulai kelihatan indah dari dekat. 🙄

Bus berhenti di monumen selamat datang Dieng sekitar jam 08.00 wib, di sini kalau mau ke telaga warna tinggal jalan kaki 500 m ke arah kiri dari kedatangan bus kok, gak jauh-jauh amat. Tapi sarapan dulu, gue semaleman belum makan, lapar dong, santuy aja, sepanjang jalan menuju telaga warna sudah banyak warung yang buka kok. Gue mampir di warung sederhana, harga menu makanan gak mahal-mahal banget, dan disini bebas mau ngapain aja, mau ngecash hp, lesehan, kamar mandinya bersih lho, mushola pun juga ada di sini. Gratis. Kita cuma bayar seharga makan saja. Manteb banget!

Makanan yang wajib dicoba di kawasan dieng tuh tempe mendoan nya! wajib coba! harus. Tempe mendoan yang masih anget plus cabai, cocok banget dimakan di Dieng yang udaranya dingin gini. Saya makan disini total habis 18rb, nasi ambil sendiri lauk semur ati ayam, orek tempe, dan yang wajib tempe mendoan empat, minum teh panas. Murah dong 😕

Warung makan tempat kami mampir, enak makanannya juga fasilitas lengkap dan bersih

Perut udah kenyang lanjut kita ke telaga warna, jalan kaki sekitar 500m, capek juga sampai berkeringat padahal udara dingin banget. Ya namanya orang jalan, ada mobil sayuran kami numpang dong, modal ucapan terima kasih. Baik banget warga sekitar telaga sini, jadi terharu. Huhuhu :cry:. Masuk ke telaga warna seharga 8.5rb per orang, tapi kalau datang pas weekend bisa lebih mahal. Yeaaah akhirnya, gue bisa ke sini lagi, alhamdulillah masih sama bagusnya. Sekalinya masuk lewat gerbang telaga warna, nanti kita langsung disuguhkan telaga berwarna hijau keren dong. Di sini ada jasa foto kamera dslr sekaligus bisa jadi pemandu tour perjalanan kamu, tapi gue mah lebih suka menjelajah sendiri, yaaa biar gratis. 😆

Telaga warna ini merupakan telaga paling luas yang ada di dataran tinggi dibandingkan telaga telaga yang lain seperti telaga pengilon, telaga merdada dan masih banyak lagi. Telaga warna sendiri luasnya kira-kira 3 kali lapangan sepak bola. Gede lah pokoknya hehe.

Telaga warna dieng terletak di ketinggian 2000 meter diatas permukaan laut. Telaga ini juga dikelilingi oleh bukit bukit yang bagus banget, cocok lah dipakai buat tempat refreshing. Jika mau dapet sensai indahnya telaga lebih, kalian bisa coba naik ke bukit yang ada di sekeliling telaga warna. Bukit paling populer di kalangan pengunjung yaitu bukit ratapan angin. Dari situ kita bisa duduk di sebuah batu sambil menikmati telaga warna dari atas bukit. Feeling good lah~

Telaga warna bisa hijau gitu, karena telaga punya kandungan belerang yang tinggi

Gue waktu itu ambil jalan ke arah kiri, karena di sana ada spot foto seperti di Ranu Kumbolo nya Semeru, keren pokoknya. Gue bareng teman-teman jalan kaki dong, sekitar dua puluh menit lumayan capek juga. Kami mampir ke gubug seperti pondok di samping telaga, ini memang disediakan untuk istirahat pengunjung sih. Gubugnya masih bagus, bisa buat spot foto juga hehe. Gubug ini lokasinya agak terpencil, jauh dari keramaian pengunjung, jadi suasana sepi karena dulu belum banyak orang yang tahu lokasi ini. Kebanyakan pengunjung sih lebih memilih ke jalur kanan menuju Telaga Pangilon dan kawasan Goa.

Sebenarnya gue memilih lajur kiri agar bisa langsung menuju jalan setapak menuju jalur pendakian Patak Banteng juga sih. Jadi buat yang mau sekalian muncak ke Gunung Prau bisa langsung ambil jalan setapak ini, kira-kira perjalanan 2½ km. Jalan kaki ya. iya jalan kaki lewat pematang sawah penduduk 😦

Lagi istirahat di pondok sambil makan camilan yang kita bawa tadi. Teduh tempatnya, buat menenangkan pikiran juga bisa karena sepi hehe

Lanjutan gue muncak ke Gunung Prau di post berikutnya ye.. 🙄