Goodbye My Lover


***
Malam ini, tepat satu tahun lebih enam hari sejak hubungan ‘kita’ menjadi rumit.
Jarak antara ‘kita’ kian merenggang, sangat jauh.
Ya, memang sebenarnya ‘kita’ sedang jauh satu sama lain.
Empat ratus enam puluh sembilan kilo meter.
Tanpa komunikasi, tanpa kabar informasi.

Sudah lama saya tidak merasakan perasaan seperti ini (lagi).
Tapi entah malam ini teringat kembali masa-masa itu.
Masa dimana rasa dibalas dengan benci;
Masa dimana maaf dibalas dengan caci;
Masa dimana tangis dibalas dengan tanya.

Saya masih ingat
“Menyesuaikan, meski menyakitkan”.
Pesan darimu untuk saya yang sedang putus asa kala itu.

Entah luka apa yang sudah tergores di sini.
Selalu ada sakit yang kambuh saat saya mengingat hal tentang dirimu.
Rasa sakit, sesak di dada.

Ah, sudahlah.
Saya tak ingin mengungkit lagi, memori otak saya terlalu cepat untuk melupakan.
Mungkin kamu juga sudah lupa?
Namun, hati bodoh ini masih saja menyimpan ‘rasa’ sampai sekarang.
Rasa bersalah dibalut dengan sedih bercampur dengan kacau; galau.

Inilah saya,
[Masih] Canggung.
[Masih] Takut untuk bicara.
[Masih] Tak kuasa melihat sorot mata mu.
Hanya diam menunggumu untuk memulai sebuah obrolan.

Tenang, saya masih komitmen.
Saya masih menyesuaikan, ya meski masih saja menyakitkan.

Goodbye my lover.
Goodbye my friend.
You have been the one.
You have been the one for me.

:’)

Iklan